A. DEFINISI
Angina
Pectoris adalah suatu sindrom klinis di mana pasien mendapat serangan sakit
dada yang khas, yaitu seperti ditekan atau terasa berat didada yang seringkali
menjalar ke lengan kiri, Lamanya 1 ± 10 menit terjadi waktu bekerja dan
menghilang setelah istirahat. Sakit dada tersebut biasanya timbul pada waktu
pasien melakukan suatu aktivitas dan segera hilang bila pasien menghentikan
aktivitasnya.
Angina pectoris disebut juga
penyakit kejang jantung. Penyakit ini timbul karena adanya penyempitan pembuluh
koroner pada jantung yang mengakibatkan jantung kehabisan tenaga pada saat
kegiatan jantung dipacu secara terus- menerus karena aktivitas fisik atau
mental.
B. ETIOLOGI
Angina
Pectoris disebabkan karena berkurangnya aliran darah ke arteria coronaria yang
salah satu penyebabnya adalah aterosclerosis, spasme pembuluh koroner, latihan
fisik, rentan terhadap dingin, makan-makanan berat dan stress. sehingga terjadi ketidakseimbangan
antara suplai oksigen ke myocardium dan kebutuhan oksigen.
C. TIPE
– TIPE ANGINA PECTORIS
1. Angina Pektoris Stabil
Disebut juga angina klasik, terjadi
jika arteri koroner yang arterosklerotik tidak dapat berdilatasi untuk
meningkatkan alirannya sewaktu kebutuhan oksigen meningkat. Peningkatan kerja
jantung dapat menyertai aktivitas misalnya berolah raga atau naik tangga.
·
Awitan(nyeri secara tiba-tiba) secara klasik berkaitan
dengan latihan atau aktifitas yang meningkatkan kebutuhan oksigen niokard.
·
Nyeri segera hilang dengan istirahat atau penghentian
aktifitas.
·
Durasi nyeri 3 – 15 menit.
2. Angina Pektoris Tidak Stabil (Angina
pra infark; Angina kresendo)
Adalah kombinasi angina stabil dengan angina prinzmetal,
dijumpai pada individu dengan perburukan penyakit arteri koroner. Angina ini
biasanya menyertai peningkatan beban kerja jantung. Hal ini tampaknya terjadi
akibat arterosklerosis koroner, yang ditandai oleh trombus yang tumbuh dan
mudah mengalami spasme.
·
Adurasi serangan dapat timbul lebih lama dari angina
pektoris stabil.
·
Pencetus dapat terjadi pada keadaan istirahat atau pada
tigkat aktifitas ringan.
·
Kurang responsif terhadap nitrat.
·
Lebih sering ditemukan depresisegmen ST
·
Dapat disebabkan oleh ruptur plak aterosklerosis, spasmus,
trombus atau trombosit yang beragregasi.
3. Angina Prinzmental (Angina Varian:
Istrahat).
Angina yang terjadi karena spasme arteri koronaria.
Berhubungan dengan risiko tinggi terjadinya infark.
·
Sakit dada atau nyeri timbul pada waktu istirahat,
seringkali pagi hari.
·
Nyeri disebabkan karena spasmus pembuluh koroner
aterosklerotik.
·
EKG menunjukkan elevasi segmen ST.
·
Cenderung berkembang menjadi infaark miokard akut.
·
Dapat terjadi aritmia.
4. Angina Nokturnal.
Nyeri terjadi saat malam hari,biasanya saat tidur dan dapat
dikurangi dengan duduk tegak. Biasanya akibat gagal ventrikel kiri.
5. Angina Refrakter atau Intraktabel, Angina
yang sangat berat sampai tidak tertahankan.
6. Angina Dekubitu, Angina saat
berbaring.
7. Iskemia tersamar
Terdapat bukti obyektif iskemia (seperti tes pada stress)
tetapi pasien tidak menunjukkan gejala
D. WOC
Mekanisme
timbulnya angina pektoris didasarkan pada ketidakadekuatan suplay oksigen ke
sel-sel miokardium yang diakibatkan karena kekuatan arteri dan penyempitan
lumen arteri koroner (ateriosklerosis koroner). Tidak diketahui secara pasti
apa penyebab ateriosklerosis, namun jelas bahwa tidak ada faktor tunggal yang
bertanggungjawab atas perkembangan ateriosklerosis. Ateriosklerosis merupakan
penyakir arteri koroner yang paling sering ditemukan. Sewaktu beban kerja suatu
jaringan meningkat, maka kebutuhan oksigen juga meningkat. Apabila kebutuhan
meningkat pada jantung yang sehat maka artei koroner berdilatasi dan megalirkan
lebih banyak darah dan oksigen ke otot jantung. Namun apabila arteri koroner
mengalami kekauan atau menyempit akibat ateriosklerosis dan tidak dapat
berdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan akan oksigen, maka
terjadi iskemik (kekurangan suplai darah) miokardium.
Adanya
endotel yang cedera mengakibatkan hilangnya produksi No (nitrat Oksido yang
berfungsi untuk menghambat berbagai zat yang reaktif. Dengan tidak adanya fungsi
ini dapat menyababkan otot polos berkontraksi dan timbul spasmus koroner yang
memperberat penyempitan lumen karena suplai oksigen ke miokard berkurang.
Penyempitan atau blok ini belum menimbulkan gejala yang begitu nampak bila
belum mencapai 75 %. Bila penyempitan lebih dari 75 % serta dipicu dengan
aktifitas berlebihan maka suplai darah ke koroner akan berkurang. Sel-sel
miokardium menggunakan glikogen anaerob untuk memenuhi kebutuhan energi mereka.
Metabolisme ini menghasilkan asam laktat yang menurunkan pH miokardium dan
menimbulkan nyeri. Apabila kebutuhan energi sel-sel jantung berkurang, maka
suplai oksigen menjadi adekuat dan sel-sel otot kembali fosforilasi oksidatif
untuk membentuk energi. Proses ini tidak menghasilkan asam laktat. Dengan hilangnya
asam laktat nyeri akan reda.
Sejumlah
faktor yang dapat menimbulkan nyeri angina:
·
Latihan fisik dapat memicu serangan dengan cara meningkatkan
kebutuhan oksigen jantung.
·
Pajanan terhadap dingin dapat mengakibatkan vasokontriksi
dan peningkatan tekanan darah, disertai peningkatan kebutuhan oksigen.
·
Makan makanan berat akan meningkatkan aliran darah ke daerah
mesentrik untuk pencernaan, sehingga menurunkan ketersediaan darah unuk supai
jantung.
·
Stress atau berbagai emosi akibat situasi yang menegangkan, menyebabkan
frekuensi jantung meningkat, akibat pelepasan adrenalin dan meningkatnya
tekanan darah dengan demikian beban kerja jantung juga meningkat.
E. PENATALAKSANAAN
MEDIS
Tujuan penatalaksanaan medis angina
adalah untuk menurunkan kebutuhan oksigen jantung dan untuk meningkatkan suplai
oksigen. Secara medis tujuan ini dicapai melalui terapi farmakologi dan kontrol
terhadap faktor risiko. Secara bedah tujuan ini dapat dicapai melalui
revaskularisasi suplai darah jantung melalui bedah pintas arteri koroner atau
angiosplasti koroner transluminar perkutan (PCTA = percutaneous transluminal
coronary angioplasty). Biasanya diterapkan kombinasi antara terapi medis dan
pembedahan.
Tiga teknik utama yang menawarkan
penyembuhan bagi klien dengan penyakit arteri koroner mencakup penggunaan alat
intrakoroner untuk meningkatkan aliran darah, penggunaan laser untuk menguapkan
plak dan endarterektomi koroner perkutan untuk mengangkat obstruksi. Penelitian
yang bertujuan untuk membandingkan hasil akhir yang dicapai oleh salah satu
atau seluruh teknik di atas, melalui bedah pintas koroner dan PTCA sedang
dilakukan. Ilmu pengetahuan terus dikembangkan untuk mengurangi gejala dan
kemunduran proses angina yang diderita pasien.
ASKEP TEORITIS
A. PENGKAJIAN
1. Identitas
pasien
Nama, umur,
jenis kelamin, agama, alamat, suku, pekerjaan, regester, diagnose masuk, dll.
2. Riwayat
penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, dan riwayat penyakit keluarga.
3. Pola-pola
fungsi kesehatan
Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat, Pola nutrisi dan metabolism,
Pola eliminasi, Pola tidur dan istirahat, Pola aktivitas, Pola sensori dan
kognitif, Pola penanggulangan stress.
4. Pemeriksaan fisik
5.
Pemeriksaan penunjang
6.
Terapi
B. DIAGNOSA
·
Nyeri berhubungan dengan iskemia miokardium.
·
Cemas berhubungan dengan rasa takut akan kematian.
·
Kurang pengetahuan tentang sifat dasar penyakit dan metode
untuk menghindari komplikasi
· Potensial terjadi ketidakpatuhan terhadap terapuitik
berhubuangan dengan tidak mau menerima perubahan pola hidup yang sesuai.
·
Intoleransi aktifitas berhubungan dengan berkurangnya curah
jantung.
C. INTERVENSI
1. Nyeri berhubungan dengan iskemia
miokardium.
Intervensi :
·
Kaji gambaran dan faktor-faktor yang memperburuk nyeri.
·
Letakkan klien pada istirahat total selama episode angina
(24-30 jam pertama)dengan posisi semi fowler.
·
Observasi tanda vital tiap 5 menit setiap serangan angina.
·
Ciptakan lingkunan yang tenang, batasi pengunjung bila
perlu.
·
Berikan makanan lembut dan biarkan klien istirahat 1 jam
setelah makan.
·
Tinggal dengan klien yang mengalami nyeri atau tampak cemas.
·
Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi.
·
Kolaborasi pengobatan.
2. Cemas berhubungan dengan rasa takut
akan kematian
Intervensi :
·
Jelaskan semua prosedur tindakan.
·
Tingkatkan ekspresi perasaan dan takut.
·
Dorong keluarga dan teman utnuk menganggap klien seperti
sebelumnya.
·
Beritahu klien program medis yang telah dibuat untuk
menurunkan/membatasi serangan akan datang dan meningkatkan stabilitas jantung.
·
Kolaborasi
3. Kurang pengetahuan tentang sifat
dasar penyakit dan metode untuk menghindari komplikasi
Intervensi :
·
Tekankan perlunya mencegah serangan angina.
·
Dorong untuk menghindari faktor/situasi yang sebagai
pencetus episode angina.
·
Kaji pentingnya kontrol berat badan, menghentikan kebiasaan
merokok, perubahan diet dan olah raga.
·
Tunjukkan/ dorong klien untuk memantau nadi sendiri selama
aktifitas, hindari tegangan.
·
Diskusikan langkah
yang diambil bila terjadi serangan angina.
·
Dorong klien untuk mengikuti program yang telah ditentukan.
D. IMPLEMENTASI
Semua
yang telah direncanakan pada tahap ini akan diterapkan sesuai dengan yang
direncanakan.
E. EVALUASI
Hasil yang diharapkan :
·
Bebas dari nyeri.
·
Menunjukkan penurunan kecemasan
·
Memahami penyakit dan tujuan perawatannya.
·
Mematuhi semua aturan medis.
·
Mengetahui kapan harus meminta bantuan medis bila nyeri
menetap atau sifatnya berubah.
·
Menghindari tinggal sendiri saat terjadinya episode nyeri.
·
Memahami cara mencegah komplikasi dan menunjukkan
tanda-tanda bebas dari komplikasi
·
Menjelaskan proses terjadinya angina
·
Menjelaskan alasan tindakan pencegahan komplikasi
·
EKG dan kadar enzim jantung normal
·
Bebas dari tanda dan gejala infark miokardium akut
·
Mematuhi program perawatan diri
·
Menunjukkan pemahaman mengenai terapi farmakologi