Kamis, 08 Desember 2011

Angina Pectoris


A.    DEFINISI
Angina Pectoris adalah suatu sindrom klinis di mana pasien mendapat serangan sakit dada yang khas, yaitu seperti ditekan atau terasa berat didada yang seringkali menjalar ke lengan kiri, Lamanya 1 ± 10 menit terjadi waktu bekerja dan menghilang setelah istirahat. Sakit dada tersebut biasanya timbul pada waktu pasien melakukan suatu aktivitas dan segera hilang bila pasien menghentikan aktivitasnya.
Angina pectoris disebut juga penyakit kejang jantung. Penyakit ini timbul karena adanya penyempitan pembuluh koroner pada jantung yang mengakibatkan jantung kehabisan tenaga pada saat kegiatan jantung dipacu secara terus- menerus karena aktivitas fisik atau mental.
B.     ETIOLOGI
Angina Pectoris disebabkan karena berkurangnya aliran darah ke arteria coronaria yang salah satu penyebabnya adalah aterosclerosis, spasme pembuluh koroner, latihan fisik, rentan terhadap dingin, makan-makanan berat dan stress. sehingga terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen ke myocardium dan kebutuhan oksigen.
C.     TIPE – TIPE ANGINA PECTORIS
1.      Angina Pektoris Stabil
Disebut juga angina klasik, terjadi jika arteri koroner yang arterosklerotik tidak dapat berdilatasi untuk meningkatkan alirannya sewaktu kebutuhan oksigen meningkat. Peningkatan kerja jantung dapat menyertai aktivitas misalnya berolah raga atau naik tangga.
·         Awitan(nyeri secara tiba-tiba) secara klasik berkaitan dengan latihan atau aktifitas yang meningkatkan kebutuhan oksigen niokard.
·         Nyeri segera hilang dengan istirahat atau penghentian aktifitas.
·         Durasi nyeri 3 – 15 menit.
2.      Angina Pektoris Tidak Stabil (Angina pra infark; Angina kresendo)
Adalah kombinasi angina stabil dengan angina prinzmetal, dijumpai pada individu dengan perburukan penyakit arteri koroner. Angina ini biasanya menyertai peningkatan beban kerja jantung. Hal ini tampaknya terjadi akibat arterosklerosis koroner, yang ditandai oleh trombus yang tumbuh dan mudah mengalami spasme.
·         Adurasi serangan dapat timbul lebih lama dari angina pektoris stabil.
·         Pencetus dapat terjadi pada keadaan istirahat atau pada tigkat aktifitas ringan.
·         Kurang responsif terhadap nitrat.
·         Lebih sering ditemukan depresisegmen ST
·         Dapat disebabkan oleh ruptur plak aterosklerosis, spasmus, trombus atau trombosit yang beragregasi.
3.      Angina Prinzmental (Angina Varian: Istrahat).
Angina yang terjadi karena spasme arteri koronaria. Berhubungan dengan risiko tinggi terjadinya infark.
·         Sakit dada atau nyeri timbul pada waktu istirahat, seringkali pagi hari.
·         Nyeri disebabkan karena spasmus pembuluh koroner aterosklerotik.
·         EKG menunjukkan elevasi segmen ST.
·         Cenderung berkembang menjadi infaark miokard akut.
·         Dapat terjadi aritmia.
4.      Angina Nokturnal.
Nyeri terjadi saat malam hari,biasanya saat tidur dan dapat dikurangi dengan duduk tegak. Biasanya akibat gagal ventrikel kiri.
5.      Angina Refrakter atau Intraktabel, Angina yang sangat berat sampai tidak tertahankan.
6.      Angina Dekubitu, Angina saat berbaring.
7.      Iskemia tersamar
Terdapat bukti obyektif iskemia (seperti tes pada stress) tetapi pasien tidak menunjukkan gejala
D.    WOC
Mekanisme timbulnya angina pektoris didasarkan pada ketidakadekuatan suplay oksigen ke sel-sel miokardium yang diakibatkan karena kekuatan arteri dan penyempitan lumen arteri koroner (ateriosklerosis koroner). Tidak diketahui secara pasti apa penyebab ateriosklerosis, namun jelas bahwa tidak ada faktor tunggal yang bertanggungjawab atas perkembangan ateriosklerosis. Ateriosklerosis merupakan penyakir arteri koroner yang paling sering ditemukan. Sewaktu beban kerja suatu jaringan meningkat, maka kebutuhan oksigen juga meningkat. Apabila kebutuhan meningkat pada jantung yang sehat maka artei koroner berdilatasi dan megalirkan lebih banyak darah dan oksigen ke otot jantung. Namun apabila arteri koroner mengalami kekauan atau menyempit akibat ateriosklerosis dan tidak dapat berdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan akan oksigen, maka terjadi iskemik (kekurangan suplai darah) miokardium.
Adanya endotel yang cedera mengakibatkan hilangnya produksi No (nitrat Oksido yang berfungsi untuk menghambat berbagai zat yang reaktif. Dengan tidak adanya fungsi ini dapat menyababkan otot polos berkontraksi dan timbul spasmus koroner yang memperberat penyempitan lumen karena suplai oksigen ke miokard berkurang. Penyempitan atau blok ini belum menimbulkan gejala yang begitu nampak bila belum mencapai 75 %. Bila penyempitan lebih dari 75 % serta dipicu dengan aktifitas berlebihan maka suplai darah ke koroner akan berkurang. Sel-sel miokardium menggunakan glikogen anaerob untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Metabolisme ini menghasilkan asam laktat yang menurunkan pH miokardium dan menimbulkan nyeri. Apabila kebutuhan energi sel-sel jantung berkurang, maka suplai oksigen menjadi adekuat dan sel-sel otot kembali fosforilasi oksidatif untuk membentuk energi. Proses ini tidak menghasilkan asam laktat. Dengan hilangnya asam laktat nyeri akan reda.
Sejumlah faktor yang dapat menimbulkan nyeri angina:
·         Latihan fisik dapat memicu serangan dengan cara meningkatkan kebutuhan oksigen jantung.
·         Pajanan terhadap dingin dapat mengakibatkan vasokontriksi dan peningkatan tekanan darah, disertai peningkatan kebutuhan oksigen.
·         Makan makanan berat akan meningkatkan aliran darah ke daerah mesentrik untuk pencernaan, sehingga menurunkan ketersediaan darah unuk supai jantung.
·         Stress atau berbagai emosi akibat situasi yang menegangkan, menyebabkan frekuensi jantung meningkat, akibat pelepasan adrenalin dan meningkatnya tekanan darah dengan demikian beban kerja jantung juga meningkat.

E.     PENATALAKSANAAN MEDIS
Tujuan penatalaksanaan medis angina adalah untuk menurunkan kebutuhan oksigen jantung dan untuk meningkatkan suplai oksigen. Secara medis tujuan ini dicapai melalui terapi farmakologi dan kontrol terhadap faktor risiko. Secara bedah tujuan ini dapat dicapai melalui revaskularisasi suplai darah jantung melalui bedah pintas arteri koroner atau angiosplasti koroner transluminar perkutan (PCTA = percutaneous transluminal coronary angioplasty). Biasanya diterapkan kombinasi antara terapi medis dan pembedahan.
Tiga teknik utama yang menawarkan penyembuhan bagi klien dengan penyakit arteri koroner mencakup penggunaan alat intrakoroner untuk meningkatkan aliran darah, penggunaan laser untuk menguapkan plak dan endarterektomi koroner perkutan untuk mengangkat obstruksi. Penelitian yang bertujuan untuk membandingkan hasil akhir yang dicapai oleh salah satu atau seluruh teknik di atas, melalui bedah pintas koroner dan PTCA sedang dilakukan. Ilmu pengetahuan terus dikembangkan untuk mengurangi gejala dan kemunduran proses angina yang diderita pasien.

ASKEP TEORITIS
A.    PENGKAJIAN
1.      Identitas pasien
Nama, umur, jenis kelamin, agama, alamat, suku, pekerjaan, regester, diagnose masuk, dll.
2.      Riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, dan riwayat penyakit keluarga.
3.      Pola-pola fungsi kesehatan
Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat, Pola nutrisi dan metabolism, Pola eliminasi, Pola tidur dan istirahat, Pola aktivitas, Pola sensori dan kognitif, Pola penanggulangan stress.
4.      Pemeriksaan fisik
5.      Pemeriksaan penunjang
6.      Terapi
B.     DIAGNOSA
·         Nyeri berhubungan dengan iskemia miokardium.
·         Cemas berhubungan dengan rasa takut akan kematian.
·         Kurang pengetahuan tentang sifat dasar penyakit dan metode untuk menghindari komplikasi
·   Potensial terjadi ketidakpatuhan terhadap terapuitik berhubuangan dengan tidak mau  menerima perubahan pola hidup yang sesuai.
·         Intoleransi aktifitas berhubungan dengan berkurangnya curah jantung.
C.     INTERVENSI
1.      Nyeri berhubungan dengan iskemia miokardium.
Intervensi :
·         Kaji gambaran dan faktor-faktor yang memperburuk nyeri.
·         Letakkan klien pada istirahat total selama episode angina (24-30 jam pertama)dengan posisi semi fowler.
·         Observasi tanda vital tiap 5 menit setiap serangan angina.
·         Ciptakan lingkunan yang tenang, batasi pengunjung bila perlu.
·         Berikan makanan lembut dan biarkan klien istirahat 1 jam setelah makan.
·         Tinggal dengan klien yang mengalami nyeri atau tampak cemas.
·         Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi.
·         Kolaborasi pengobatan.
2.      Cemas berhubungan dengan rasa takut akan kematian
Intervensi :
·         Jelaskan semua prosedur tindakan.
·         Tingkatkan ekspresi perasaan dan takut.
·         Dorong keluarga dan teman utnuk menganggap klien seperti sebelumnya.
·         Beritahu klien program medis yang telah dibuat untuk menurunkan/membatasi serangan akan datang dan meningkatkan stabilitas jantung.
·         Kolaborasi
3.      Kurang pengetahuan tentang sifat dasar penyakit dan metode untuk menghindari komplikasi
Intervensi :
·         Tekankan perlunya mencegah serangan angina.
·         Dorong untuk menghindari faktor/situasi yang sebagai pencetus episode angina.
·         Kaji pentingnya kontrol berat badan, menghentikan kebiasaan merokok, perubahan diet dan olah raga.
·         Tunjukkan/ dorong klien untuk memantau nadi sendiri selama aktifitas, hindari tegangan.
·          Diskusikan langkah yang diambil bila terjadi serangan angina.
·         Dorong klien untuk mengikuti program yang telah ditentukan.

D.    IMPLEMENTASI
Semua yang telah direncanakan pada tahap ini akan diterapkan sesuai dengan yang direncanakan.
E.     EVALUASI
Hasil yang diharapkan :
·         Bebas dari nyeri.
·         Menunjukkan penurunan kecemasan
·         Memahami penyakit dan tujuan perawatannya.
·         Mematuhi semua aturan medis.
·         Mengetahui kapan harus meminta bantuan medis bila nyeri menetap atau sifatnya berubah.
·         Menghindari tinggal sendiri saat terjadinya episode nyeri.
·         Memahami cara mencegah komplikasi dan menunjukkan tanda-tanda bebas dari komplikasi
·         Menjelaskan proses terjadinya angina
·         Menjelaskan alasan tindakan pencegahan komplikasi
·         EKG dan kadar enzim jantung normal
·         Bebas dari tanda dan gejala infark miokardium akut
·         Mematuhi program perawatan diri
·         Menunjukkan pemahaman mengenai terapi farmakologi

Tidak ada komentar: