A. DEFINISI
Gagal
jantung sering disebut juga gagal jantung kongestif, yaitu ketidakmampuan
jantung untuk memompa darah yang ade kuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan
akan oksigen dan nutrisi. Istilah gagal
jantung kongestif paling sering digunakan kalau terjadi gagal jantung sisi kiri
dan kanan.
Definisi
gagal jantung menurut beberapa pendapat :
1. Menurut
Sir Thomas Lewis adalah jantung tidak mampu mengeluarkan isinya dengan ade
kuat.
2. Menurut
Paul Wood adalah jantung tidak mampu mempertahankan sirkulasi untuk memenuhi
kebutuhan tubuh meskipun tekanan pengisian ade kuat.
3. Menurut
Poole-Wilson adalah suatu sindrom klinik yang disebabkan oleh suatu kelainan
jantung dan dapat dikenali dari response hemodinamik, renal, neural dan
hormonal yang berkarakteristik.
B. ETIOLOGI
Etiologi
gagal jantung antara lain :
1. Kelainan
otot jantung
Gagal jantung
paling sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung, menyebabkan
menurunnya kontraktilitasjantung.
Kondisi yang mendasari penyebab kalainan fungsi otot mencakup
ateriskelerotis koroner, hipertensi arterial, dan penyakit otot degenerative
atau inflamasi.
2. Aterosklerosis
koroner
Mengakibatkan
disfungsi myocardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis (akibat
penumpukan asam laktat )
3. Hipertensi
sistemik atau pulmonal (peningkatan afterload)
Meningkatkan
beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut otot
jantung. Efek tersebut (hipertrofi
miokard) dapat dianggap sebagai mekanisme kompensasi karena akan meningkatkan kontraktilitas jantung.
4. Peradangan
dan penyakit miokardium degenerative
Berhubungan
dengan gagal jantung karena kondisi ini secara langsung merusak serabut
jantung, menyebabkan kontraktilitas menurun.
5. Penyakit
jantung lain
Gagal jantung
dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya tidak secara
langsung mempengaruhi jantung. Mekanisme
yang biasanya terlibat mnencakup gangguan aliran darah melalui jantung.
6. Faktor
sistemik
Terdapat
sejumlah faktor yang berperan dalam perkembangan dan beratnya gagal jantung
. meningkatnya laju metabolism,
hipoksia, dan anemia memerlukan peningkatkan curah jantung untuk memenuhi
kebutuhan oksigen sistemik.
C. KLASIFIKASI/JENIS
Gagal
jantung diklasifikasikan berdasarkan beratnya keluhan dan kapasitas
latihan. Klasifikasi yang banyak
dipergunakan adalah klasifikasi dari NYHA.
New
York Heart Association Classification 1964
1. Class
1
Penderita
penyakit jantung tanpa limitasi aktifitas fisik. Aktifitas fisik sehari-hari tidak menimbulkan
dyspnoe atau kelelahan.
2. Class
2
Penderita
penyakit jantung disertai sedikit limitasi dari aktifitas fisik. Saat istirahat tidak ada keluhan. Aktifitas sehari-hari menimbulkan dyspnoe
atau kelelahan.
3. Class
3
Penderita
penyakit jantung disertai limitasi aktifitas fisik yang nyata. Saat istirahat tidak ada keluhan. Aktifitas fisik yang lebih ringan dari
aktifitas sehari-hari sudah menimbulkan dsypnoe atau kelelahan.
4. Class
4
Penderita
penyakit jantung yang tak mampu melakukan setiap aktifitas fisik tanpa
menimbulkan keluhan. Gejala-gejala gagal
jantung bahkan mungkin sudah Nampak saat
istirahat. Setiap aktifitas fisik akan menambah
beratnya keluhan.
D. WOC
Sindrom
gagal jantung dapat dibagi dalam 2 komponen :
1. Gagal
myocardium, yang ditandai dengan menurunnya kontraktilitas.
2. Respon
sistemik, terhadap menurunnya fungsi myocardium
·
Meningkatnya aktifitas
system simpatetik
·
Aktivasi system
rennin-angiotensin-aldosteron dan stimulasi pelepasan vasopressin
·
Vasokonstriksi arteria
renalis
Gangguan
fisiologik gagal jantung adalah kompleks, tetapi pada semua gagal jantung
terdapat gangguan pada kemampuan jantung sebagai pompa dan ini tergantung pada
bermacam-macam factor yang saling terkait.
Menurunnya kontralitas miokard memegang peran sentral pada gagal
jantung, akan tetapi kontraktilitas miokard sukar untuk diukur.
E. PENATALAKSANAAN
MEDIS.
Tujuan dasar penatalaksanaan pasien
dan gagal jantung adalah:
a. Dukungan istirahat untuk mengurangi beban
kerja jantung.
b. Meningkatkan kekuatan dan efisiensi kontraksi
jantung dengan bahan-bahan farmakologis.
c. Menghilangkan penimbunan cairan tubuh
berlebihan dengan terapi diuretic, diet dan istirahat.
1. Terapi
Farmakologis.
a. Glukosida
jantung, diuretic dan vasodilator merupakan dasar terapi farmakologis gagal
jantung.
b. Digitalis
meningkatkan kekuatan kontraksi jantung dan memperlambat frekuensi jantung.
2. Terapi
Diuretik.
a. Diberikan untuk memacu ekresi natrium dan air
melalui ginjal, obat ini tidak diperlukan bila pasien bersedia merespon.
Pembatasan aktivitas digitalis dan diet rendah natrium, jadwal pemberian obat
ditentukan oleh berat badan, furosemid (Lasix) terutama sangat penting dalam
terapi gagal jantung karena dapat mendilatasi renula, sehingga meningkatkan
kapasitas urea yang pada gilirannya mengurangi preload (darah vena yang kembali
ke jantung).
b. Terapi
diuretic jangka panjang dapat menyebabkan hiponatremia yang mengakibatkan
lemah, letih, malaise, kram otot dan denyut nadi yang kecil dan cepat.
c. Pemberian
diuretic dalam dosis besar dan berulang juga bisa mengakibatkan hipokalemia
ditandai dengan denyut nadi lemah, suara jantung menjauh, hipertensi, otot
kendor, penurunan refleks tendon dan kelemahan umum.
d. Bila
sudah diresepkan harus diberikan pada siang hari agar tidak mengganggu
istirahat pasien pada malam hari, intake dan output pasien harus dicatat
mungkin pasien dapat mengalami kehilangan cairan setelah pemberian diuretic,
pasien juga harus menimbang badannya setiap hari turgor kulit untuk menghindari
terjadinya tanda-tanda dehidrasi.
3. Terapi
Vasodilator.
a. Obat-obatan vasoaktif merupakan pengobatan
utama pada penatalaksanaan gagal jantung.untuk mengurangi impedansi( Tekanan )
terhadap penyemburan darah oleh ventrikel
b. Natrium
nitraprosida secara intravena melalui infuse yang dipantau tepat dosisnya harus
dibatasi agar tekanan systole arteriole tetap dalam batas yang diinginkan.
c. Nitrogliserin.
4. Diit,
diit jantung, makanan lunak, rendah garam.
5. Pemberian
digitalis, membantu kontraksi jantung dan memperlambat frekuensi jantung. Hasil
yang diharapkan peningkatan curah jantung, penurunan tekanan vena dan volume
darah dan peningkatan diuresis akan mengurangi edema. Pada saat pemberian ini
pasien harus dipantau terhadap hilangnya dispnea, ortopnea, berkurangnya
krekel, dan edema perifer. Apabila terjadi keracunan ditandai dengan anoreksia,
mual dan muntah namun itu gejala awal selanjutnya akan terjadi perubahan irama,
bradikardi kontrak ventrikel premature, bigemini (denyut normal dan premature
saling berganti ), dan takikardia atria proksimal.
6. Morfin,
diberikan untuk mengurangi sesak napas pada asma cardial, hati-hati depresi
pernapasan
7. Pemberian
Oksigen.
ASKEP TEORITIS
A. PENGKAJIAN.
1. Identitas
Pasien.
Nama,
umur, jenis kelamin, agama, alamat, suku, pekerjaan, register, diagnose masuk,
dll.
2. Riwayat
penyakit ,
a. Keluhan
utama : lemah beraktifitas, sesak nafas.
b. Riwayat
Penyakit Sekarang :
·
Penyebab Kelemahan
Fisik setelah melakukan aktifitas ringan sampai berat.
·
Seperti apa kelemahan
melakukan aktifitas yang di rasakan, biasanya disertai sesak nafas.
·
Apakah kelemahan fisik
bersifat lokal atau keseluruhan system otot rangka dan apakah disertai
ketidakmampuan dalam melakukan pergerakan.
·
Bagaimana nilai rentang
kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari.
·
Kapan timbulnya keluhan
kelemahan beraktifitas , seberapa lamanyakelemahan beraktifitas , apakah setiap
waktu, saat istirahat ataupun saat beraktifitas.
c. Riwayat
Penyakit Dahulu.
·
Apkah sebelumnya pernah
menderita nyeri dada,darah tinggi, Diabetes Melitus, hiperlipidemia.
·
Obat apa saja yang
pernah diminum yangberhubungan dengan obat diuretic, nitrat, penghambat beta
serta antihipertensi. Apakah ada efek samping dan alergi obat.
d. Riwayat
Penyakit Keluarga.
·
Penyakit apa yang
pernah dialami keluarga dan adakah anggota keluarga yang meninggal , apa
penyebab kematiannya.
3. Riwayat Pekerjaan dan Kebiasaan.
·
Situasi tempat Kerja
dan lingkungannya.
·
Kebiasaan dalam pola
hidup pasien
·
Kebiasaan merokok
4. Pola-pola
fungsi kesehatan.
Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat, Pola nutrisi dan metabolism,
Pola eliminasi, Pola tidur dan istirahat, Pola aktivitas, Pola sensori dan
kognitif, Pola penanggulangan stress.
5. Pemeriksaan
Fisik
a. Keadaan
Umum : di dapatkan kesadaran baik atau
compos mentis dan berubah sesuai tingkat gangguan yang melibatkan perfusi
system saraf pusat.
b. Aktivitas
/Istirahat .
Gejala :
Kletihan/Kelelahan terus menerus sepanjang hari, insomnia, nyeri dada dengan
aktivitas, dispnea pada saat istirahat.
Tanda : Gelisah,
perubahan status mental misalnya : tanda vital berubah pada saat beraktivitas.
c. Sirkulasi
Gejala: Riwayat HT, IM baru/akut, episode GJK sebelumnya, penyakit jantung , bedah jantung , endokarditis, anemia, syok septic, bengkak pada kaki, telapak kaki, abdomen.
Gejala: Riwayat HT, IM baru/akut, episode GJK sebelumnya, penyakit jantung , bedah jantung , endokarditis, anemia, syok septic, bengkak pada kaki, telapak kaki, abdomen.
Tanda:
1) TD; mungkin rendah (gagal pemompaan).
2) Tekanan Nadi; mungkin
sempit.
3) Irama Jantung;
Disritmia.
4) Frekuensi jantung;
Takikardia.
5) Nadi apical; PMI
mungkin menyebar dan merubah
6) posisi secara inferior
ke kiri.
7) Bunyi jantung; S3
(gallop) adalah diagnostik,
8) Murmur sistolik dan
diastolic.
9) Warna; kebiruan, pucat
abu-abu, sianotik.
10) Punggung kuku; pucat
atau sianotik dengan pengisian.
11) kapiler lambat.
12) Hepar; pembesaran/dapat
teraba.
13) Bunyi napas; krekels,
ronkhi.
15) Edema; mungkin dependen,
umum atau pitting
d. Integritas ego.
Gejala: Ansietas, kuatir dan takut. Stress
yang berhubungan dengan penyakit/keperihatinan
finansial (pekerjaan/biaya perawatan medis)
Tanda: Berbagai manifestasi perilaku, misalnya: ansietas, marah, ketakutan dan mudah tersinggung.
Tanda: Berbagai manifestasi perilaku, misalnya: ansietas, marah, ketakutan dan mudah tersinggung.
e. Eliminasi.
Gejala: Penurunan berkemih, urine berwana
gelap, berkemih malam hari (nokturia),
diare/konstipasi.
f. Makanan/cairan
Gejala: Kehilangan nafsu makan,
mual/muntah, penambahan berat badan signifikan, pembengkakan pada ekstremitas
bawah, pakaian/sepatu terasa sesak, diet tinggi garam/makanan yang telah
diproses dan penggunaan diuretic.
Tanda: Penambahan berat badan cepat dan distensi abdomen (asites) serta edema (umum, dependen, tekanan dan pitting).
Tanda: Penambahan berat badan cepat dan distensi abdomen (asites) serta edema (umum, dependen, tekanan dan pitting).
g. Hygiene.
Gejala: Keletihan/kelemahan, kelelahan selama
aktivitas Perawatan diri.
Tanda: Penampilan menandakan kelalaian perawatan personal.
g. Neurosensori.
Tanda: Penampilan menandakan kelalaian perawatan personal.
g. Neurosensori.
Gejala: Kelemahan, pening, episode pingsan.
Tanda: Letargi, kusut pikir, diorientasi, perubahan perilaku dan mudah tersinggung.
Tanda: Letargi, kusut pikir, diorientasi, perubahan perilaku dan mudah tersinggung.
h. Nyeri/Kenyamanan.
Gejala: Nyeri dada, angina akut atau kronis,
nyeri abdomen kanan atas
dan sakit pada otot.
dan sakit pada otot.
Tanda: Tidak tenang, gelisah, focus
menyempit danperilaku melindungi diri.
i. Pernapasan
i. Pernapasan
Gejala: Dispnea saat aktivitas, tidur sambil
duduk atau dengan beberapa bantal, batuk dengn/tanpa pembentukan sputum,
riwayat penyakit kronis, penggunaan bantuan pernapasan.
Tanda:
- Pernapasan; takipnea, napas dangkal, penggunaan otot asesori pernapasan.
- Batuk: Kering/nyaring/non produktif atau mungkin batuk terus menerus dengan/tanpa pemebentukan sputum.
- Pernapasan; takipnea, napas dangkal, penggunaan otot asesori pernapasan.
- Batuk: Kering/nyaring/non produktif atau mungkin batuk terus menerus dengan/tanpa pemebentukan sputum.
- Sputum; Mungkin
bersemu darah, merah muda/berbuih (edema pulmonal)
- Bunyi napas; Mungkin
tidak terdengar.
- Fungsi mental;
Mungkin menurun, kegelisahan, letargi.
- Warna kulit; Pucat
dan sianosis.
j. Keamanan.
Gejala: Perubahan dalam
fungsi mental, kehilangankekuatan/tonus otot, kulit lecet.
k. Interaksi sosial.
Gejala: Penurunan
keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan.
l. Pembelajaran/pengajaran.
l. Pembelajaran/pengajaran.
Gejala: menggunakan/lupa menggunakan
obat-obat jantung, misalnya: penyekat saluran kalsium.
Tanda: Bukti tentang ketidak berhasilan untuk
meningkatkan.
B. DIAGNOSA
·
Penurunan curah jantung
yang berhubungan dengan factor-faktor mekanik
·
Perubahan dalam volume
cairan berlebihan yang berhubungan dengan gangguan mekanisme pengaturan
·
Kerusakan pertukaran
gas yang berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveoli yang disebabkan
oleh peningkatan tekanan kapiler paru
·
Potensial kerusakan
integritas kulit yang berhubungan dengan kerusakan sirkulasi dan status
metabolic
·
Inoleran aktifitas yang
berhubungan dengan kelemahan sekunder terhadap penurunan curah jantung.
·
Kurang Pengetahuan yang
berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit dan
penatalaksanaan perawatan diri
C. INTERVENSI.
1. Penurunan
curah jantung yang berhubungan dengan factor-faktor mekanik.
Rencana Intervensi :
• Kaji dan lapor tanda penurunan curah jantung.
• Periksa keadaan klien
; kaji frekuensi dan irama jantung.
• Catat bunyi jantung.
• Palpasi nadi perifer.
• Pantau dan catat
haluaran urine.
• Pertahankan bedrest
dengan kepala tempat tidur elevasi 30º
• Berikan istirahat
dengan lingkungan yang tenang.
• Berikan oksigen
tambahan
• Kolaborasi untuk
pemberian obat
• Pemberian cairan IV,
pembatasan jumlah total sesuai indikasi, hindari cairan garam.
• Pantau EKG dan
perubahan foto dada.
2. Intoleransi
aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplay dan demand
oksigen.
• Catat
frekuensi jantung, irama dan perubahan TD sebelum dan sesudah aktifitas
• Tingkatkan
istirahat dan batasi aktifitas
• Anjurkan
menghindari peningkatan tekanan abdomen
• Pertahankan
klien tirah baring
• Evaluasi tanda
vital saat aktifitas
• Pertahankan
penambahan O2 sesuai pesanan
• Selama
aktifitas kaji EKG, dispnoe, sianosis, frekuensi dan pola nafas.
• Rujuk program
rehabilitasi jantung
3. Kelebihan
volume cairan berhubungan dengan kongesti vaskuler pulmonalis dan perpindahan
cairan ke ekstra vaskuler.
Rencana
Intervensi :
• Kaji tekanan
darah
• Kaji distensi
vena jugularis
• Timbang BB
• Beri posisi
yang membantu drainage ekstrimitas dan latihan gerak pasif.
• Periksa laboratorium


Tidak ada komentar:
Posting Komentar