TINJAUAN TEORITIS
A.
DEFINISI
Thypus
abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasa mengenai saluran pencernaan.
Gejala yang biasa ditimbulkan adalah demam yang tinggi lebih dari 1 minggu,
gangguan pada saluran pencernaan, dan gangguan kesadaran (FKUI, 1985)
Demam
tifoid disebabkan oleh kuman Salmonella typhi,
Salmonella Paratyphi A, B
da C. yang menyerang usus halus khususnya daerah illeum. Penyakit ini termasuk
penyakit tropik yang sangat berhubungan erat dengan kebersihan perseorangan dan
lingkungan. Dapat dengan mudah berpindah ke orang lain melalui Fecal Oral,
artinya kuman Salmonella yang ada pada feses penderita atau karier
mengkontaminasi makanan atau minuman orang sehat.
Orang
yang mengalami penyakit typus abdominalis tidak hanya mengalami gangguan pada saluran
cerna,
tetapi gangguan kesadaran, dan lebih banyak
menyerang pada anak usia 12 – 13 tahun ( 70% - 80% ), pada usia 30 - 40 tahun (
10%-20% ) dan diatas usia pada anak 12-13 tahun sebanyak ( 5%-10% ). (Mansjoer,
Arif 1999).
B.
ETIOLOGI
Penyabab
penyakit ini adalah Salmonella typhi, Salmonella pada typhii A, Salmonella pada typhii B,
dan pada typii C. Basil gram negatif, bergerak dengan rambut getar, tidak
berspora, mempunyai 3 macam antigen yaitu :
·
antigen O(HgO) : antigen pada bagian Soma
·
antigen H(AgH) : antigen pada bagian flagel
·
antigen Vi(AgVi) : antigen pada bagian kapsul.
Dalam serum penderita terdapat zat (aglutinin) terhadap ketiga
macam antigen tersebut. Kuman tumbuh pada
suasan aerob dan fakultatif anaerob pada suhu 15 – 41°C (optimum 37°C) dan pH
pertumbuhan 6 – 8.
C.
TANDA
DAN GEJALA
Masa
inkubasi rata-rata 2 minggu gejalanya: cepat lelah, malaise, anoreksia, sakit
kepala, rasa tidak enak di perut, dan nyeri seluruh badan. Demam
berangsur-angsur naik selama minggu pertama. Demam terjadi terutama pada sore
dan malam hari (febris remitten). Pada minggu 2 dan 3 demam terus menerus
tinggi (febris kontinue) dan kemudian turun berangsur-angsur.
Gangguan
gastrointestinal, bibir kering dan pecah-pecah, lidah kotor-berselaput putih
dan pinggirnya hiperemis, perut agak kembung dan mungkin nyeri tekan,
bradikardi relatif, kenaikan denyut nadi tidak sesuai dengan kenaikan suhu
badan (Junadi, 1982).
Gejala klinik thyphus abdominalis pada
pasien dewasa biasanya lebih Berat dibandingkan anak. Masa tunas rata-rata
10-20 hari. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi melalui makanan sedangkan yang
terlama sampai 30 hari jika infeksi melalui minuman. Selama masa inkubasi
diketemukan gejala prodromal yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri
kepala, pusing-pusing dan tidak bersemangat. Kemudian
menyusul gejala klinik yang biasa ditemukan yaitu :
1.
Demam
Pada
kasus – kasus yang khas demam berlangsung 3 minggu. Bersifat febris remitens
dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama, suhu badan
berangsur-angsur meningkat pada sore hari meningkat dan biasanya menurun pada
pagi atau malam hari. Dalam minggu ke dua penderita terus berada dalam keadaan
demam. Dalam minggu ke tiga suhu badan berangsur-angsur turun dan normal kembali
pada minggu ke empat.
2.
Gangguan
pada saluran pencernaan.
Pada
mulut terdapat bau nafas tidak sedap. Bibir kering dan pecah-pecah (rhagaden). Lidah
ditutupi selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepi lidah kemerahan,
jarang dosertai tremor. Pada abdomen ditemukan keadaan perut kembung
(meteorismus). Hati dan limpa membesar diserta nyeri pada perabaan. Defekasi
biasanya konstipasi, mungkin normal dan kadang-kadang diare.
3.
Gangguan
kesadaran
Umumnya
kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa mendalam, yaitu apatis sampai
somnolen, jarang terjadi sopor, koma atau gelisah. Disamping gejala diatas
kadang-kadang ditemukan pada punggung atau anggota yaitu roseola berupa
bintik-bintik kemerahan karena embolus basil dalam kapiler kulit terutama
diketemukan pada minggu pertama demam. Kadang-kadang ditemukan bradikardia dan
mungkin didapatkan epistaksis.
D.
WOC
Infeksi masuk melalui
makanan dan minuman yang terkontaminasi, infeksi terjadi pada saluran
pencernaan. Basil di usus halus melalui pembuluh limfe masuk ke dalam peredaran
darah sampai di organ-organ terutama hati dan limfa sehingga membesar dan
disertai nyeri. Basil masuk kembali ke dalam darah (bakterimia) dan menyebar ke
seluruh tubuh terutama kedalam kelenjar limfoid usus halus menimbulkan tukak
berbentuk lonjong pada mukosa usus. Tukak dapat menyebabkan perdarahan dan
perforasi usus. Jika kondisi tubuh dijaga tetap baik, akan terbentuk zat
kekebalan atau antibodi. Dalam keadaan seperti ini, kuman typhus akan mati dan
penderita berangsur-angsur sembuh.
E.
PENATALAKSANAAN
1.
Pengobatan
·
Kloramfenikol
·
Kotrimoksasol
·
Bila terjadi ikterus dan hepatomegali: selain kloramfenikkol,
diterapi dengan Ampisilin 100 mg/kgBB/hari selama 14 hari
dibagi dalam 4 dosis.
2.
Perawatan
·
Penderita dirawat dengan tujuan untuk isolasi,
observasi, dan pengobatan. Klien harus tetap berbaring sampai minimal 7 hari
bebas demam atau 14 hari untuk mencegah terjadinya komplikasi perdarahan usus
atau perforasi usus.
·
Pada klien dengan kesadaran menurun,
diperlukan perubahan2 posisi berbaring untuk menghindari komplikasi pneumonia
hipostatik dan dekubitus.
3.
Diet
·
Pada mulanya klien diberikan bubur saring
kemudian bubur kasar untuk menghindari komplikasi perdarahan usus dan perforasi
usus.
·
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian
makanan padat secara dini yaitu nasi, lauk pauk yang rendah sellulosa (pantang
sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan aman kepada klien.
F.
KOMPLIKASI
1.
Pada usus halus :
Perdarahan usus : Hanya sedikit
ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. Jika perdarahan
banyak, terjadi melena, dapat disertai nyeri perut.
Perforasi usus : Timbul biasanya pada
minggu ketiga atau setelahnya dan terjadi pada bagian distal ileum.
Peritonitis : Biasanya menyertai
perforasi. Ditemukan gejala abdomen akut yaitu nyeri perut hebat, dinding
abdomen tegang dan nyeri tekan.
2. Di luar usus
Terjadi karena
lokalisasi peradangan akibat sepsis (bakterinya) yaitu meningitis,
kolesistisis, enselovati, dll.
G.
PENCEGAHAN
Dengan mengetahui cara
penyebaran penyakit, maka dapat dilakukan pengendalian.
Menerapkan dasar2
hygiene dan kesehatan masyarakat, yaitu :
·
melakukan deteksi dan isolasi terhadap sumber
infeksi. Perlu diperhatikan faktor kebersihan lingkungan.
·
Pembuangan sampah dan klorinasi air minum,
perlindungan terhadap suplai makanan dan minuman, peningkatan ekonomi dan
peningkatan kebiasaan hidup sehat serta mengurangi populasi lalat (reservoir).
·
Memberikan pendidikan kesehatan dan
pemeriksaan kesehatan (pemeriksaan tinja) secara berkala terhadap penyaji
makanan baik pada industri makanan maupun restoran.
·
Sterilisasi pakaian, bahan, dan alat-alat yang
digunakan klien dengan menggunakan antiseptik. Mencuci tangan dengan sabun.
·
Deteksi karier dilakukan dengan tes darah dan
diikuti dengan pemeriksaan tinja dan urin yang dilakukan berulang-ulang. Klien
yang karier positif dilakukan pengawasan yang lebih ketat yaitu dengan
memberikan informasi tentang kebersihan personal.
ASKEP
TEORITIS
A.
PENGKAJIAN
1.
Identitas
pasien
Nama,
umur, jenis kelamin, agama, alamat, suku, pekerjaan, regester, diagnose masuk,
dll.
2.
Riwayat
penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, dan riwayat penyakit keluarga.
3.
Pola-pola
fungsi kesehatan
Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat, Pola
nutrisi dan metabolism, Pola eliminasi, Pola tidur dan istirahat, Pola
aktivitas, Pola sensori dan kognitif, Pola penanggulangan stress.
4.
Pemeriksaan fisik
·
Status kesehatan umum
·
Sistem integument
·
Kepala
·
Muka
·
Mata
·
Telinga
·
Hidung.
·
Mulut dan faring.
·
Leher
·
Thoraks
·
Jantung
·
Abdomen
·
Inguinal-Genitalia-Anus
·
Ekstrimitas
·
Tulang belakang
5.
Pemeriksaan penunjang
6.
Terapi
B.
DIAGNOSA
·
Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan
infeksi Salmonella Typhii
·
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang
dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia
·
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
kelemahan/bedrest.
·
Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari
kebutuhan) berhubungan dengan pengeluaran cairan
yang berlebihan (diare/muntah).
C.
INTERVENSI
1.
Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan
infeksi salmonella typhsi
Intervensi :
·
Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga
tentang peningkatan suhu tubuh
R/ agar klien dan keluarga mengetahui sebab dari peningkatan suhu dan membantu mengurangi kecemasan yang timbul.
R/ agar klien dan keluarga mengetahui sebab dari peningkatan suhu dan membantu mengurangi kecemasan yang timbul.
·
Anjurkan klien menggunakan pakaian tipis dan
menyerapÓ keringat
R/ untuk menjaga agar klien merasa nyaman, pakaian tipis akan membantu mengurangi penguapan tubuh.
R/ untuk menjaga agar klien merasa nyaman, pakaian tipis akan membantu mengurangi penguapan tubuh.
·
Batasi pengunjung
R/ agar klien merasa tenang dan udara di dalam
ruangan tidak terasa panas.
·
Observasi TTV tiap 4 jam sekali
R/ tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui
keadaan umum pasien
·
Anjurkan pasien untuk banyak minum 2,5 liter / 24 jam ± minum
R/ peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak
R/ peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak
·
Memberikan kompres dingin
R/ untuk membantu menurunkan suhu tubuh
·
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian tx
antibiotik dan antipiretik
R/ antibiotik untuk mengurangi infeksi dan antipiretik untuk menurangi panas.
R/ antibiotik untuk mengurangi infeksi dan antipiretik untuk menurangi panas.
2.
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang
dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia
Intervensi :
Intervensi :
·
Jelaskan pada klien dan keluarga tentang
manfaat makanan/nutrisi.
R/ untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang nutrisi sehingga motivasi untuk makan meningkat.
R/ untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang nutrisi sehingga motivasi untuk makan meningkat.
·
Timbang berat badan klien setiap 2 hari.
R/ untuk mengetahui peningkatan dan penurunan
berat badan.
·
Beri nutrisi dengan diet
lembek, tidak mengandung banyak serat, tidak merangsang, maupun menimbulkan
banyak gas dan dihidangkan saat masih hangat.
R/ untuk meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan.
R/ untuk meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan.
·
Beri makanan dalam porsi kecil dan frekuensi
sering.
R/ untuk menghindari mual dan muntah.
·
Kolaborasi dengan dokter untukÓ pemberian antasida
dan nutrisi parenteral.
R/ antasida mengurangi rasa mual dan muntah.
R/ antasida mengurangi rasa mual dan muntah.
·
Nutrisi parenteral dibutuhkan terutama jika
kebutuhan nutrisi per oral sangat kurang.
3.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
kelemahan/bed rest
Intervensi :
·
Beri motivasi pada pasien dan kelurga untuk
melakukan mobilisasi sebatas kemampuan (missal. Miring kanan, miring kiri).
R/ agar pasien dan keluarga mengetahui
pentingnya mobilisasi bagi pasien yang bedrest.
·
Kaji kemampuan pasien dalam beraktivitas
(makan, minum).
R/ untuk mengetahui sejauh mana kelemahan yang
terjadi.
·
Dekatkan keperluan pasien dalam jangkauannya.
R/ untuk mempermudah pasien dalam melakukan
aktivitas.
·
Berikan latihan mobilisasi secara bertahap
sesudah demam hilang.
R/ untuk menghindari kekakuan sendi dan mencegah adanya dekubitus.
R/ untuk menghindari kekakuan sendi dan mencegah adanya dekubitus.
4.
Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari
kebutuhan) berhubungan dengan cairan yang berlebihan (diare/muntah)
Intervensi :
·
Berikan penjelasan tentang pentingnya
kebutuhan cairan pada pasien dan keluarga.
R/ untuk mempermudah pemberian cairan (minum) pada pasien.
R/ untuk mempermudah pemberian cairan (minum) pada pasien.
·
Observasi pemasukan dan pengeluaran cairan.
R/ untuk mengetahui keseimbangan cairan.
·
Anjurkan pasien untuk banyak minum 2,5 liter / 24 jam
R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan.
·
Observasi kelancaran tetesan infuse.
R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan dan
mencegah adanya odem.
·
Kolaborasi dengan dokter untuk terapi cairan
(oral / parenteral).
R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan yang tidak terpenuhi (secara parenteral).
R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan yang tidak terpenuhi (secara parenteral).
D.
IMPLEMENTASI
Semua yang telah direncanakan pada tahap ini akan diterapkan
sesuai dengan yang direncanakan.
E.
EVALUASI
Dari hasil intervensi
yang telah tertulis, evaluasi yang diharapkan :
·
Dx : peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan
infeksi salmonella typhii
Evaluasi : suhu tubuh normal (36 o C) atau
terkontrol.
·
Dx : gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia.
Evaluasi : Pasien mampu mempertahankan
kebutuhan nutrisi adekuat.
·
Dx : intoleransi aktivitas berhubungan dengan
kelemahan/bedrest
Evaluasi : pasien bisa melakukan aktivitas
kehidupan sehari-hari (AKS) optimal
·
Dx :gangguan keseimbangan
cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan pengeluaran cairan yang
berlebihan (diare/muntah)
·
Evaluasi : kebutuhan cairan
terpenuhi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar