Selasa, 01 November 2011

Typus Abdominalis

TINJAUAN TEORITIS
A.    DEFINISI
Thypus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasa mengenai saluran pencernaan. Gejala yang biasa ditimbulkan adalah demam yang tinggi lebih dari 1 minggu, gangguan pada saluran pencernaan, dan gangguan kesadaran (FKUI, 1985)
Demam tifoid disebabkan oleh kuman Salmonella typhi, Salmonella Paratyphi A, B da C. yang menyerang usus halus khususnya daerah illeum. Penyakit ini termasuk penyakit tropik yang sangat berhubungan erat dengan kebersihan perseorangan dan lingkungan. Dapat dengan mudah berpindah ke orang lain melalui Fecal Oral, artinya kuman Salmonella yang ada pada feses penderita atau karier mengkontaminasi makanan atau minuman orang sehat.
Orang yang mengalami penyakit typus abdominalis tidak hanya mengalami gangguan pada saluran cerna, tetapi gangguan kesadaran, dan lebih banyak menyerang pada anak usia 12 – 13 tahun ( 70% - 80% ), pada usia 30 - 40 tahun ( 10%-20% ) dan diatas usia pada anak 12-13 tahun sebanyak ( 5%-10% ). (Mansjoer, Arif 1999). 

B.     ETIOLOGI
Penyabab penyakit ini adalah Salmonella typhi, Salmonella pada typhii A, Salmonella pada typhii B, dan pada typii C. Basil gram negatif, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora, mempunyai 3 macam antigen yaitu :
·         antigen O(HgO) : antigen pada bagian Soma
·         antigen H(AgH) : antigen pada bagian flagel
·         antigen Vi(AgVi) : antigen pada bagian kapsul.

Dalam serum penderita terdapat zat (aglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut. Kuman tumbuh pada suasan aerob dan fakultatif anaerob pada suhu 15 – 41°C (optimum 37°C) dan pH pertumbuhan 6 – 8.

C.     TANDA DAN GEJALA
Masa inkubasi rata-rata 2 minggu gejalanya: cepat lelah, malaise, anoreksia, sakit kepala, rasa tidak enak di perut, dan nyeri seluruh badan. Demam berangsur-angsur naik selama minggu pertama. Demam terjadi terutama pada sore dan malam hari (febris remitten). Pada minggu 2 dan 3 demam terus menerus tinggi (febris kontinue) dan kemudian turun berangsur-angsur.
Gangguan gastrointestinal, bibir kering dan pecah-pecah, lidah kotor-berselaput putih dan pinggirnya hiperemis, perut agak kembung dan mungkin nyeri tekan, bradikardi relatif, kenaikan denyut nadi tidak sesuai dengan kenaikan suhu badan (Junadi, 1982).
Gejala klinik thyphus abdominalis pada pasien dewasa biasanya lebih Berat dibandingkan anak. Masa tunas rata-rata 10-20 hari. Yang tersingkat 4 hari jika infeksi melalui makanan sedangkan yang terlama sampai 30 hari jika infeksi melalui minuman. Selama masa inkubasi diketemukan gejala prodromal yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing-pusing dan tidak bersemangat. Kemudian menyusul gejala klinik yang biasa ditemukan yaitu :
1.      Demam
Pada kasus – kasus yang khas demam berlangsung 3 minggu. Bersifat febris remitens dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama, suhu badan berangsur-angsur meningkat pada sore hari meningkat dan biasanya menurun pada pagi atau malam hari. Dalam minggu ke dua penderita terus berada dalam keadaan demam. Dalam minggu ke tiga suhu badan berangsur-angsur turun dan normal kembali pada minggu ke empat.
2.      Gangguan pada saluran pencernaan.
Pada mulut terdapat bau nafas tidak sedap. Bibir kering dan pecah-pecah (rhagaden). Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepi lidah kemerahan, jarang dosertai tremor. Pada abdomen ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). Hati dan limpa membesar diserta nyeri pada perabaan. Defekasi biasanya konstipasi, mungkin normal dan kadang-kadang diare.
3.      Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa mendalam, yaitu apatis sampai somnolen, jarang terjadi sopor, koma atau gelisah. Disamping gejala diatas kadang-kadang ditemukan pada punggung atau anggota yaitu roseola berupa bintik-bintik kemerahan karena embolus basil dalam kapiler kulit terutama diketemukan pada minggu pertama demam. Kadang-kadang ditemukan bradikardia dan mungkin didapatkan epistaksis.

D.    WOC
Infeksi masuk melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi, infeksi terjadi pada saluran pencernaan. Basil di usus halus melalui pembuluh limfe masuk ke dalam peredaran darah sampai di organ-organ terutama hati dan limfa sehingga membesar dan disertai nyeri. Basil masuk kembali ke dalam darah (bakterimia) dan menyebar ke seluruh tubuh terutama kedalam kelenjar limfoid usus halus menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada mukosa usus. Tukak dapat menyebabkan perdarahan dan perforasi usus. Jika kondisi tubuh dijaga tetap baik, akan terbentuk zat kekebalan atau antibodi. Dalam keadaan seperti ini, kuman typhus akan mati dan penderita berangsur-angsur sembuh.
   
E.     PENATALAKSANAAN
1.        Pengobatan
·         Kloramfenikol
·         Kotrimoksasol
·         Bila terjadi ikterus dan hepatomegali: selain kloramfenikkol, diterapi dengan Ampisilin 100 mg/kgBB/hari selama 14 hari dibagi dalam 4 dosis.
2.        Perawatan
·         Penderita dirawat dengan tujuan untuk isolasi, observasi, dan pengobatan. Klien harus tetap berbaring sampai minimal 7 hari bebas demam atau 14 hari untuk mencegah terjadinya komplikasi perdarahan usus atau perforasi usus.
·         Pada klien dengan kesadaran menurun, diperlukan perubahan2 posisi berbaring untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan dekubitus.
3.        Diet
·         Pada mulanya klien diberikan bubur saring kemudian bubur kasar untuk menghindari komplikasi perdarahan usus dan perforasi usus.
·         Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan padat secara dini yaitu nasi, lauk pauk yang rendah sellulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan aman kepada klien.

F.      KOMPLIKASI
1.        Pada usus halus :
Perdarahan usus : Hanya sedikit ditemukan jika dilakukan pemeriksaan tinja dengan benzidin. Jika perdarahan banyak, terjadi melena, dapat disertai nyeri perut.
Perforasi usus : Timbul biasanya pada minggu ketiga atau setelahnya dan terjadi pada bagian distal ileum.
Peritonitis : Biasanya menyertai perforasi. Ditemukan gejala abdomen akut yaitu nyeri perut hebat, dinding abdomen tegang dan nyeri tekan.
2.   Di luar usus
Terjadi karena lokalisasi peradangan akibat sepsis (bakterinya) yaitu meningitis, kolesistisis, enselovati, dll.

G.    PENCEGAHAN
Dengan mengetahui cara penyebaran penyakit, maka dapat dilakukan pengendalian.
Menerapkan dasar2 hygiene dan kesehatan masyarakat, yaitu :
·         melakukan deteksi dan isolasi terhadap sumber infeksi. Perlu diperhatikan faktor kebersihan lingkungan.
·         Pembuangan sampah dan klorinasi air minum, perlindungan terhadap suplai makanan dan minuman, peningkatan ekonomi dan peningkatan kebiasaan hidup sehat serta mengurangi populasi lalat (reservoir).
·         Memberikan pendidikan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan (pemeriksaan tinja) secara berkala terhadap penyaji makanan baik pada industri makanan maupun restoran.
·         Sterilisasi pakaian, bahan, dan alat-alat yang digunakan klien dengan menggunakan antiseptik. Mencuci tangan dengan sabun.
·         Deteksi karier dilakukan dengan tes darah dan diikuti dengan pemeriksaan tinja dan urin yang dilakukan berulang-ulang. Klien yang karier positif dilakukan pengawasan yang lebih ketat yaitu dengan memberikan informasi tentang kebersihan personal.
      
ASKEP TEORITIS
A.    PENGKAJIAN
1.      Identitas pasien
Nama, umur, jenis kelamin, agama, alamat, suku, pekerjaan, regester, diagnose masuk, dll.
2.      Riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, dan riwayat penyakit keluarga.
3.      Pola-pola fungsi kesehatan
Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat, Pola nutrisi dan metabolism, Pola eliminasi, Pola tidur dan istirahat, Pola aktivitas, Pola sensori dan kognitif, Pola penanggulangan stress.
4.      Pemeriksaan fisik
·         Status kesehatan umum
·         Sistem integument
·         Kepala
·         Muka
·         Mata
·         Telinga
·         Hidung.
·         Mulut dan faring.
·         Leher
·         Thoraks
·         Jantung
·         Abdomen
·         Inguinal-Genitalia-Anus
·         Ekstrimitas
·         Tulang belakang
5.      Pemeriksaan penunjang
6.      Terapi

B.     DIAGNOSA
·         Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi Salmonella Typhii
·         Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia
·         Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan/bedrest.
·         Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan pengeluaran cairan yang berlebihan (diare/muntah).

C.     INTERVENSI
1.      Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi salmonella typhsi
Intervensi :
·         Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang peningkatan suhu tubuh
R/ agar klien dan keluarga mengetahui sebab dari peningkatan suhu dan membantu mengurangi kecemasan yang timbul.
·         Anjurkan klien menggunakan pakaian tipis dan menyerapÓ keringat
R/ untuk menjaga agar klien merasa nyaman, pakaian tipis akan membantu mengurangi penguapan tubuh.
·         Batasi pengunjung
R/ agar klien merasa tenang dan udara di dalam ruangan tidak terasa panas.
·         Observasi TTV tiap 4 jam sekali
R/ tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien
·         Anjurkan pasien untuk banyak minum  2,5 liter / 24 jam ± minum
R/ peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak
·         Memberikan kompres dingin
R/ untuk membantu menurunkan suhu tubuh
·         Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian tx antibiotik dan antipiretik
R/ antibiotik untuk mengurangi infeksi dan antipiretik untuk menurangi panas.
2.      Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia
Intervensi
:
·         Jelaskan pada klien dan keluarga tentang manfaat makanan/nutrisi.
R/ untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang nutrisi sehingga motivasi untuk makan meningkat.
·         Timbang berat badan klien setiap 2 hari.
R/ untuk mengetahui peningkatan dan penurunan berat badan.
·         Beri nutrisi dengan diet lembek, tidak mengandung banyak serat, tidak merangsang, maupun menimbulkan banyak gas dan dihidangkan saat masih hangat.
R/ untuk meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan.
·         Beri makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering.
R/ untuk menghindari mual dan muntah.
·         Kolaborasi dengan dokter untukÓ pemberian antasida dan nutrisi parenteral.
R/ antasida mengurangi rasa mual dan muntah.
·         Nutrisi parenteral dibutuhkan terutama jika kebutuhan nutrisi per oral sangat kurang.
3.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan/bed rest
Intervensi :
·         Beri motivasi pada pasien dan kelurga untuk melakukan mobilisasi sebatas kemampuan (missal. Miring kanan, miring kiri).
R/ agar pasien dan keluarga mengetahui pentingnya mobilisasi bagi pasien yang bedrest.
·         Kaji kemampuan pasien dalam beraktivitas (makan, minum).
R/ untuk mengetahui sejauh mana kelemahan yang terjadi.
·         Dekatkan keperluan pasien dalam jangkauannya.
R/ untuk mempermudah pasien dalam melakukan aktivitas.
·         Berikan latihan mobilisasi secara bertahap sesudah demam hilang.
R/ untuk menghindari kekakuan sendi dan mencegah adanya dekubitus.
4.      Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan cairan yang berlebihan (diare/muntah)
Intervensi :
·         Berikan penjelasan tentang pentingnya kebutuhan cairan pada pasien dan keluarga.
R/ untuk mempermudah pemberian cairan (minum) pada pasien.
·         Observasi pemasukan dan pengeluaran cairan.
R/ untuk mengetahui keseimbangan cairan.
·         Anjurkan pasien untuk banyak minum  2,5 liter / 24 jam
R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan.
·         Observasi kelancaran tetesan infuse.
R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan dan mencegah adanya odem.
·         Kolaborasi dengan dokter untuk terapi cairan (oral / parenteral).
R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan yang tidak terpenuhi (secara parenteral).

D.    IMPLEMENTASI
Semua yang telah direncanakan pada tahap ini akan diterapkan sesuai dengan yang direncanakan.

E.     EVALUASI
Dari hasil intervensi yang telah tertulis, evaluasi yang diharapkan :
·         Dx : peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi salmonella typhii
Evaluasi : suhu tubuh normal (36 o C) atau terkontrol.
·         Dx : gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia.
Evaluasi : Pasien mampu mempertahankan kebutuhan nutrisi adekuat.
·         Dx : intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan/bedrest
Evaluasi : pasien bisa melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) optimal
·         Dx :gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan pengeluaran cairan yang berlebihan (diare/muntah)
·         Evaluasi : kebutuhan cairan terpenuhi

Tidak ada komentar: